Rencana Perjalanan: Seni Membuat Daftar yang Tak Pernah Terwujud (Tapi Tetap Bangga)

Siapa yang tidak suka membuat rencana perjalanan? Duduk manis di depan laptop, membuka Google Maps, dan bermimpi tentang destinasi impian seolah-olah kita sudah punya tiket gratis ke surga. Padahal, kenyataannya? Sebagian besar dari kita hanya akan berakhir dengan daftar yang semakin panjang, dompet yang semakin tipis, dan rasa bersalah karena belum juga memesan apa-apa.

Tapi jangan khawatir, karena di sinilah keajaiban rencana perjalanan yang tak pernah terlaksana benar-benar bersinar. Kita bisa merasa seperti petualang sejati hanya dengan menonton video travel di YouTube sambil makan mi instan. Jadi, mari kita bahas bagaimana membuat rencana perjalanan yang sempurna—untuk kemudian diabaikan dengan penuh gaya.

Mengapa Rencana Perjalanan Itu Seperti Pacar yang Toxic: Menjanjikan Tapi Tak Pernah Serius

Pernahkah Anda merasa seperti sedang menjalin hubungan dengan rencana perjalanan Anda? Awalnya, semuanya indah. Anda saling bertukar ide, merencanakan masa depan yang cerah, bahkan mungkin sampai membeli koper baru (yang nantinya hanya akan dipakai untuk menyimpan barang-barang di lemari).

Tapi kemudian, realita mulai muncul. Tiba-tiba, Anda sadar bahwa uang yang Anda tabung untuk tiket pesawat itu ternyata lebih cepat habis untuk belanja online. Atau mungkin, Anda baru ingat bahwa Anda punya pekerjaan yang tidak bisa ditinggal begitu saja—kecuali jika Anda ingin hidup di bawah jembatan dengan status “digital nomad” yang diidam-idamkan.

Jadi, mengapa kita tetap melakukannya? Karena rencana perjalanan memberikan ilusi kontrol. Kita merasa seperti sedang mempersiapkan sesuatu, padahal sebenarnya kita hanya sedang menunda-nunda. Dan hei, setidaknya kita punya alasan untuk tidak merasa bersalah ketika teman-teman mengunggah foto liburan mereka di Instagram.

Langkah-Langkah Membuat Rencana Perjalanan yang Tak Akan Pernah Terlaksana (Tapi Tetap Keren)

1. Pilih Destinasi yang Terlalu Ambisius

Mau ke Eropa? Bagus. Tapi jangan hanya berhenti di Paris atau Roma. Tambahkan juga Islandia untuk melihat aurora, Swiss untuk bermain ski, dan Yunani untuk berfoto di depan rumah-rumah putih yang Instagramable. Lupakan fakta bahwa Anda belum pernah naik pesawat lebih dari dua jam—ini soal mimpi, bukan logika.

Semakin banyak destinasi yang Anda masukkan ke dalam daftar, semakin kecil kemungkinan Anda benar-benar pergi. Tapi setidaknya, Anda bisa merasa seperti seorang penjelajah sejati hanya dengan melihat peta dunia di dinding kamar.

2. Buat Jadwal yang Lebih Padat dari Kereta Commuter Line di Jakarta

Siapa bilang liburan harus santai? Buatlah jadwal yang lebih padat daripada rapat kantor pada hari Senin. Pukul 6 pagi: sarapan di kafe terkenal. Pukul 8: mengunjungi museum. Pukul 12: makan siang di restoran yang direkomendasikan oleh influencer travel. Pukul 2: belanja oleh-oleh. Dan seterusnya, sampai Anda lupa bahwa Anda sebenarnya butuh tidur.

Dengan jadwal seperti ini, Anda akan merasa seperti sedang berlatih untuk menjadi agen rahasia. Dan ketika akhirnya Anda sadar bahwa tidak mungkin menjalankan semua itu, Anda bisa dengan mudah menyalahkan “waktu yang tidak cukup”—bukan karena Anda terlalu ambisius.

3. Abaikan Budget Seolah-olah Uang Tumbuh di Pohon

Ini adalah bagian paling menyenangkan dari membuat rencana perjalanan. Anda bisa dengan bebas mengabaikan fakta bahwa tiket pesawat ke Jepang harganya setara dengan gaji bulanan Anda. Atau bahwa akomodasi di Bali yang Anda idam-idamkan itu lebih mahal daripada sewa apartemen Anda.

Tapi jangan khawatir, karena Anda selalu bisa menunda perjalanan sampai Anda memenangkan lotre—atau sampai Anda menemukan pekerjaan yang membayar Anda untuk jalan-jalan. Sementara itu, nikmati saja proses menambahkan barang-barang mewah ke dalam daftar belanjaan Anda di Amazon.

4. Jangan Lupa untuk Membeli Perlengkapan yang Tak Akan Pernah Dipakai

Ini adalah ritual wajib bagi setiap pembuat rencana perjalanan yang serius. Anda harus membeli setidaknya satu barang yang terlihat keren tapi tidak pernah Anda gunakan. Mungkin itu jaket hiking yang terlalu mahal, atau sepatu trekking yang membuat kaki Anda terasa seperti sedang dipeluk oleh batu.

Tapi hei, setidaknya Anda bisa mengunggah foto barang-barang itu di Instagram dengan caption “Siap untuk petualangan!”. Dan ketika akhirnya Anda tidak pergi, barang-barang itu bisa menjadi pengingat abadi tentang betapa hebatnya Anda dalam berencana—dan betapa buruknya Anda dalam melaksanakan.

Kenapa Kita Tetap Melakukan Ini? (Spoiler: Karena Kita Manusia)

Pada akhirnya, membuat rencana perjalanan yang tak pernah terlaksana adalah cara kita untuk tetap bermimpi. Di dunia yang penuh dengan tanggung jawab dan kenyataan yang menyebalkan, memiliki daftar destinasi impian adalah cara kita untuk tetap merasa hidup.

Jadi, teruslah membuat rencana. Teruslah bermimpi. Dan ketika seseorang bertanya, “Kapan kamu pergi?”, Anda bisa dengan santai menjawab, “Oh, itu masih dalam tahap perencanaan.” Karena pada akhirnya, prosesnya lebih menyenangkan daripada hasilnya—dan setidaknya, Anda tidak perlu berurusan dengan kenyataan bahwa penerbangan Anda tertunda selama 12 jam.

Dan siapa tahu? Mungkin suatu hari nanti, Anda benar-benar akan pergi. Atau mungkin tidak. Tapi setidaknya, Anda punya cerita yang bagus untuk diceritakan—atau untuk diabaikan sama sekali.